Rabu, 21 Januari 2015

rangkuman

1.Sejarah Kursi

Posted on Tuesday, May 27, 2008 | No Comments
Tau gak seech!!!?Kursi yang merupakan salah satu perabot tertua dan utama di masyarakat sekarang, baru umum dipakai pada abad XVII. Saat itu kursi merupakan simbol kekuasaan dan martabat. Kebanyakannya duduk dia atas dingklik (bangku kecil), bangku panjang, atau peti kayu.
Masyarakat Mesir Kuno (3110-1070 SM) juga berpendapat sama. Ujung kaki itu biasanya serupa kaki binatang, lengkap dengan cakar atua kukunya. Bahannya mahak, entah itu kayu hitam, gading, atau kayu berlapis emas., diukir atu dicat cerah, lalu dibalut kain mahal atau kulit binatang.

Serupa dengan Mesir, pada masyarakat Yunani kuno, (110-400 SM), kursi menentukan status sosial pemiliknya. Namun, bangsa itu sempat menorehkan prestasi dengan menemukan model kursi cantik, klysmos. Kursi tanpa tangan ini berbentuk khas, dua kaki depannya melengkung seperti huruf C menganga ke depan, sebaliknya, dua kaki belakangnya seperti hurup C menghadap ke belakang. Sandarannya pun melengkung. Akibatnya, dari samping kursi itu bersiluet S. Kursi yang dudukannya terbuat dari dudukan tali itu ngetrend kembali pada awal abad XIX dan XX.

Bangsa Romawi kuno (700-400 SM) lain lagi, walaupun banyak meniru gaya Yunani, mereka memiliki cirri tersendiri dengan lebih banyak menggunakan perunggu dan perak. Klysmos ala Romawi lebih besar dan berat serta diberi jok empuk.

Bangsa Romawi berhasil mengembangkan dingklik menjadi curule. Bangku yang sering diduduki hakim ini memiliki dua pasang kaki. Tiap pasangnya gabungan dua kaki belakang atau depan. Kaki-kaki itu saling silang membentuk huruf X.

Curule biasanya dari gabungan kayu dengan gading atu logam yang dicor. Mode curule bertahan sampai Abad Pertengahan (400-1300 M). Susulannya adalah kursi dengan sandaran, panel samping yang tinggi, atau kanopi dari kain damask atau beludru. Panel dan kanopi itu sebagai penangkal tiupan angin dingin.

Di Jepang, India, dan Cina -terutama pada Dinasti Han (202-200 SM)- telah dihasilkan perabot oriental yang bernilai seni tinggi.

Pengrajin Cina terampil menyambung antarbagian tanpa paku atau pasak, dan jarang sekali menggunakan lem. Caranya, ujung-ujung di bagian sambungan dipahat dengan sangat terampil, sehingga bisa masuk satu sama lain.

Di Abad Pertengahan keterampilan orang Eropa dalam membuat perabot merosot tajam. Untuk menutupi ketidakterampilannya, pengrajin mengecatnya atu melapisinya dengan emas.

Kain pelapis dan jok mulai dikenal pada abad XVI, tapi baru akhir abad XVII dan awal abad XVIII digunakan secara umum.

Pada saat berbarengan, lahir kursi santai dengan bagian dudukan, sandaran punggung, dan tangan yang diganjal dan dilapisi kain (kadang ditambah tirai anti-angin). Kain pelapis biasanya dari wol, kain bersulam, atau bahan permadani. Sutera dan beludru yang sangat mahal namun mudah rusak, hanya diigunakan orang kaya.

Abad XIX, kursi merefleksikan pesatnya perkembangan teknologi. Tahun 1928 Samuel Pratt mematenkan kursi buatannya yang pertama kali menggunakan pegas dari kawat besi atau baja. Ketika diterapkan pada kursi santai, lebih ma’nyus.

Perancang Inggris William Moris merancdang kursi Morris denga sandaran yang dapat direbahkan, awal dari teknologi reclining.

Pada abad ke-20, plastik dikenal sebagai materi baru untuk kursi. Plastik memang sangat fleksibel untuk segala hal.

Kini Anda bisa menemukan beragam jenis dan bentuk kursi. Bahkan, ada yang ‘dikawinkan’ dengan teknologi komputerisasi, duduklah sebelum tempat duduk berkurang, hehe.

Fungsi Kursi

Untuk menghasilkan tingkat kenyamanan yang maksimal, ada baiknya mengetahui pentingnya tiga fungsi kursi kantor yang sering digunakan di kantor.
Berikut definisi fungsi kursi kantor :
1. memberikan kenyamanan  bekerja.
2. sebagai alat bantu dalam bekerja.
3. sebagai aksesoris ruangan anda.





2.Sejarah dan Asal Usul Lemari Pakaian

Lemari adalah salah satu dari Mebel atau furnitur yang digunakan untuk menyimpan pakaian dan barang-barang lainnya yang disesuaikan dengan kebutuhannya. Sejarah lemari pakaian terbentuk dari cerita yang panjang, berawal dari abad pertengahan di Inggris.

Awalnya, Lemari berasal dari peti kecil yang digunakan untuk menyimpan pakaian. Lemari tersebut tersimpan di tempat tinggal dari keluarga bangsawan, seperti banyak ditemukan di  ruang di kastil, istana abad pertengahan. Pada mulanya lemari pakaian berupa loker yang dipasang pada dinding yang digunakan baik sebagai ruang ganti dan ruang penyimpanan untuk pakaian.

Ruangan itu kadang-kadang digunakan untuk menyimpan barang-barang lainnya seperti perhiasan koin, bulu dan rempah-rempah dan kegiatan lain seperti rambut dan pembuatan gaun sering berlangsung di ruang pakaian. Dengan berjalannya waktu, loker tersebut berubah menjadi lemari pakaian modern mandiri dengan rak yang menarik dan ruang tempat menggantung pakaian.

Lemari abad XVII dan XVIII

Pada awal abad ketujuh belas lemari pakaian mulai dibuat menjadi bentuk yang modern sebagai bagian dari mebel kayu berdiri yang dirancang untuk menyimpan pakaian. Karena saat itu hutan di Inggris sudah kehabisan pohon kayu maka bahan dasar lemari kayu diimpor dari Amerika. Lemari dibuat dari kayu ek yang kokoh,sangat besar, dan rumit tapi diukir dengan front yang dekoratif.

Pada abad kedelapan belas kenari telah menggantikan pohon jati sebagai kayu pilihan untuk pembuatan mebel meskipun jenis kayu tersebut masih tergolong berat.

Lemari modern

Selama abad kesembilan belas lemari pakaian mulai mengambil bentuk modern dengan tambahan ruang untuk menggantung pakaian di setiap sisi. Tak ketinggalan, sebuah cermin terpasang sebagai penambah kegunaan untuk berhias.

Kini lemari banyak yang terbuat dari kayu mahoni namun dengan satinwood yang halus proses pembuatan lemari menjadi lebih mudah. Pembuat furnitur terkenal seperti Thomas Chippendale memiliki desain yang indah yang diukir pada potongan kayu dan yang lain seperti Thomas Sheraton dan George Hepplewhite menggunakan artistik dari kayu yang sangat halus untuk efek yang besar.

Dengan perkembangan teknologi, dan akses yang mudah antar negara, kini lemari dapat dijumpai dalam berbagai bentuk dan fungsi dan Keindahan yang bernilai tinggi, di Indonesia lemari yang terkenal dengan keunikan, antik dan bercitarasa tinggi adalah lemari yang terbuat dari kayu jati, namun jenis kayu ini sudah sulit didapat seiring berkurangnya hutan jati di Indonesia. (Berbagai sumber)

FUNGSI LEMARI
Desain lemari pakaian berkembang seiring gaya hidup. Namun ada dua hal yang selalu ada. Pertama, memenuhi kebutuhan ruang simpan untuk beragam bentuk sandang. Kedua, aspek kemudahan.

Apa saya yang wajib ada di lemari pakaian? Dari fungsinya, bagian dalam lemari terbagi tiga, yaitu untuk pakaian lipat, pakaian gantung, dan tempat menyimpan aksesoris. Desain lemari juga memperhatikan aspek kemudahan bagi penggunanya. Karena itulah lemari perlu dilengkapi dengan lift hanger

Gantungan pakaian itu tidak statis. Ia dapat ditarik keluar lemari. Lift hanger juga memudahkan pengguna saat mengambil pakaian di gantungan tinggi. Ada tongkat untuk menarik palang besi gantung ke arah bawah – luar.

Selain pakaian, saat ini sepatu pun ditempatkan di dalam lemari, namun untuk itu perlu diperhatikan pembagian ruang dalam lemari. Untuk rak sepatu sebaiknya ada pemisah dengan rak pakaian dan punya ventilasi sendiri.


3.Asal Mula Sejarah Batu Intan Berlian 

Asal-mula Sejarah Batu Intan Berlian berasal dari Yunani kuno (Adamas), benar, tidak dapat diubah, bisa dipecahkan, liar, dari (a), un δαμάω (damáō), mengalahkan aku, Aku jinak . [3] Diamonds diperkirakan telah terlebih dahulu diakui dan ditambang di India, di mana deposito aluvial yang signifikan dari batu bisa ditemukan berabadabad yang lalu di sepanjang sungai Penner, Krishna dan Godavari. Berlian telah dikenal di India selama setidaknya 3.000 tahun, tetapi kemungkinan besar 6.000 tahun.

Berlian telah dihargai sebagai batu permata sejak menggunakan mereka sebagai ikon agama di India kuno. penggunaan alatalat mereka dalam ukiran juga tanggal untuk awal sejarah manusia. Popularitas berlian telah meningkat sejak abad ke19 karena pasokan meningkat, meningkatkan pemotongan dan polishing teknik, pertumbuhan ekonomi dunia, dan iklan yang inovatif dan sukses kampanye.
Asal Mula Sejarah Batu Intan Berlian di Muka Bumi

Pada 1772, Antoine Lavoisier menggunakan lensa untuk mengkonsentrasikan sinar matahari di berlian dalam suasana oksigen, dan menunjukkan bahwa satusatunya produk pembakaran adalah karbon dioksida, membuktikan bahwa berlian terdiri dari karbon. Kemudian pada 1797, Smithson Tennant diulang dan diperluas bahwa percobaan. Dengan menunjukkan bahwa pembakaran berlian dan grafit (arang) melepaskan jumlah yang sama gas ia mendirikan kesetaraan kimia zatzat ini.
FUNGSINYA
     Sebagian orang-orang menganggap bahwa batu intan membawa sial, bencana dan keterpurukkan karena banyak peristiwa-peristiwa yang terjadi memiliki intan yang hebat atau bagus pada akhirnya membawa si pemiliknya ke keterpurukkan bahkan kematian seperti kisah terkenal dari intan-intan paling terkenal di dunia seperti The Hope atau Koh-i-noor (Mountain of Light). Kisah Kaisar Napoleon Bonaparte yang membawa intan ke medan perang sebagai tumbal dan akhirnya kalah dan dibuang ke pulau St.Helena serta meninggal disana setelah mengalami pembuangan selama tujuh tahun (5 Mei 1821).
Namun sebagian orang yang fanatik juga menganggap intan mempunyai pengaruh yang positive dan sifat-sifat mistik seperti membawa hoki ke si pemilik dan mengusir hawa-hawa negative dan ilmu jahat. Namun dibalik kepercayaan-kepercayaan yang berlawanan pada umumnya batu intan dijadikan sebagai simbol asmara yang kekal dan abadi terhadap pasangan. 
4.

Assalamualaikum wr wb,, apa kabar sahabat yusro yang di rahmati Allah SWT.

Pada kesempatan kali ini yusro akan berbagi tentang sejarah dan manfaat Akuarium .Sahabat sekalian sebelumnya pernah tau tidak tentang sejarah Akuarium atau ada yang tertarik namun belum sempat memilikinya, dengan keberadaan Akuarium di rumah kita bukan hanya bermanfaat sebagai hiasan namun ada manfaat lain di balik semua itu . Akuarium berasal dari kata Ocean dan rium. Ocean berasal dari bahasa Inggris yang artinya lautan atau samudra, sedangkan kata rium merupakan penggalan dari kata akuarium yang artinya tempat.

Berdasarkan kamus besar Bahasa Indonesia, Aquarium adalah tempat memelihara ikan hias ; Dimana Aquarium itu mirip dengan satu ekosistem tangk berisikan banyak komponen saling berinteraksi sehingga keseluruhan sistem berjalan. Awalnya penggunaan akuarium dimulai pada masa bangsa Romawi dan Mesir, pada saat itu ikan di taruh dalam suatu wadah dimana bertujuan sebagai penyimpan persediaan akan ikan segar.

Di Cina penangkaran secara selektif  telah dimulai sekitar 2000 tahun yang lalu. Pada jaman dinasti Song di Cina, ikan mas mulai dipelihara di dalam rumah dalam bejana keramik besar (Budiono Mismail “Akuarium Terumbu Karang” Penerbit UB Press Cetakan I, 2010).

FUNGSI AQUARIUM
  1. Memberi inspirasi. karena Akuarium yang di tata dengan baik akan menenangkan pikiran orang yang melihatnya, dengan begitu akan meningkatkan imajinasi dan gairah dalam menciptakan sesuatu. 
  2. Mengoptimalkan hobi. Pada umumnya orang memelihara ikan dalam wadah Akuarium adalah karna hobi dalam memanfaatkan waktu senggang atau seusai melakukan rutinitas, namun bila di tekuni hobi ini dapat memberi peluang penghasilan sampingan.
  3. Menumbuhkan kembangkan kasih sayang yang alami pada diri kita.
  4. Menjernihkan pikiran, dimana keindahan Akuarium beserta ikan hias di dalamnya dapat menetralkan perasaan sehingga ada hubungannya dengan kesehatan. Keindahan dan gerakan ikan kerap kali memberi daya tarik tersendiri mampu menghanyutkan hati dan pikiran kita dalam kedamaian.
  5. Ikut melestarikan suberdaya ikan.
Nah dari pergi jauh-jauh untuk merefresh pikiran kita dengan pergi ke suatu tempat yang jauh dan terkadang malah sumpek mendingan kita menyisihkan sebagian uang kita untuk memiliki Akuarium, karena dengan begitu kita dapat merefresh pikiran kita kapan aja tanpa berpergian jauh-jauh, namun jangan sampai terhipnotis ya dengan keindahannya.hehehe

Bagi sahabat yusro yang tertarik untuk memiliki Akuarium dapat mencari informasi lebih tentang Akuarium dan ikan hias di pasar tempat penjualan ikan hias terdekat di daerah sekitar anda, dijamin di situ kita akan mendapatkan banyak informasi tentang Akuarium dan jenis-jenis ikan hias. Dan perlu sahabat sekalian ingat jika kehidupan dalam Akuarium dapat memberikan pelajaran berharga bahwa kita masih sangat membutuhkan sentuhan alami untuk membuat hidup lebih indah dan bermakna.

5.Sejarah dan Asal Usul Kue Ulang Tahun
Sejarah Birthday Cake 
Asal Birthday Cakes berasal dari masa kuno tetapi kue itu sangat berbeda dari apa yang kita miliki saat ini. Kata 'Cakes' dikatakan telah diciptakan pada awal abad ke-13 dan dikatakan telah berasal dari kata 'kaka' bahasa Norse Lama.

Definisi Birthday Cake 

Dalam budaya Barat Birthday Cake didefinisikan sebagai pastry atau dessert yang disajikan kepada seseorang di hari ulang tahunnya. Kue ulang tahun biasanya dihiasi dengan nama seseorang dan membawa pesan selamat. Lilin sama dengan jumlah tahun seseorang telah hidup juga ditempatkan pada kue. Ada juga tradisi untuk meletakkan satu lilin ekstra untuk membawa keberuntungan. Kue ulang tahun biasanya spons dan rasa yang paling populer di kue adalah cokelat.
Sejarah Birthday Cake

Sejarah Birthday Cake dapat ditelusuri kembali ke Yunani kuno yang membuat kue atau roti madu berbentuk bulat atau bulan dan membawanya ke kuil Artemis-Dewi Bulan. Beberapa ahli, bagaimanapun, percaya bahwa tradisi kue ulang tahun dimulai di Jerman pada Abad Pertengahan. Adonan roti manis diberi bentuk bayi Yesus di kain lampin dan digunakan untuk memperingati hari ulang tahunnya. Kue ulang tahun khusus ini kemudian muncul kembali di Jerman sebagai Kinderfest atau perayaan ulang tahun seorang anak muda. Jerman juga membuat jenis lain khusus kue yang disebut Geburtstagorten seperti yang dipanggang berlapis-lapis. Ini adalah roti yang lebih manis dan kasar seperti kue yang biasanya dibuat pada waktu itu.

Mengapa Round Birthday Cake?

 Pada jaman dulu, kue ulang tahun kebanyakan berbentuk bulat. Asosiasi sarjana keyakinan agama dan dorongan teknis untuk hal yang sama. Yunani menawarkan kue berbentuk bulat untuk Dewi Bulan - Artemis seperti bulan ditandai. Mereka bahkan menempatkan lilin pada kue untuk membuat kue seperti cahaya bulan.
Beberapa ahli berpendapat bahwa kue di dunia kuno memiliki hubungan dengan siklus tahunan. Babak bentuk kue ini lebih disukai sebagai mewakili sifat siklus kehidupan. Kebanyakan khusus, matahari dan bulan.
alasan teknis diberikan untuk bulatan kue adalah bahwa kue yang paling kita tahu lebih lanjut dari roti. Dalam roti zaman kuno dan kue dibuat dengan tangan. Biasanya berbentuk bola bulat dan dipanggang di hearthstones atau panci dangkal atau rendah. Oleh karena itu, ini secara alami santai menjadi bentuk bulat. Dengan kemajuan, loyang berbagai bentuk dikembangkan dan hari ini kita melihat kue dalam bentuk imajinatif dan ukuran.
FUNGSINYA
 sebagai penyempurnah suatu pesta dan sebagai simbol kemeriahan. 

6.Sejarah Tenunan

Galeri Keluarga
Galeri Keluarga
Diantara Hasil seni tenunan Adiguru Nortipah Abd Kadir


 Tenunan adalah suatu proses hasil jalinan atau sulaman benang-benang secara selang-seli antara benang loseng ( yang menunggu ) dengan benang pakan ( yang mendatang ) untuk dijadikan sehelai kain. Seni tenunan adalah suatu warisan yang terus mendapat tempat istimewa dalam kebudayaan Nusantara. Faktor yang mendorong perkembangan seni tenunan ini dapat disorot pada kepentingan kedudukan rantau ini dari segi geografi. Sebagai tempat persinggahan kapal yang strategik, Nusantara menjadi tumpuan utama pedagang dari Tanah Arab, India dan China. Antara barangan yang didagang ketika itu ialah kain termasuk kain tenun. Oleh sebab itu, seni tenunan di Nusantara banyak dipengaruhi dari negara-negara tersebut. Di antara tenunan yang paling terkenal ialah Songket Melayu dan Tenunan Pua peribumi Borneo. Perusahaan tenunan ini banyak dilakukan di negeri Pantai Timur khususnya di negeri Kelantan, Terengganu dan Pahang. Teknik hasil kraftangan tenunan utama yang menampakkan keseragaman tekstil Melayu. Kain tenunan beerti kain atau tekstil yang dihasilkan dengan teknik tenunan yang dibuat daripada benang.

Tenunan Pahang
Kain tenunan Pahang dipercayai berasal daripada Sulawesi dan dibawa ke Pahang pada abad ke-16. Tokoh yang bertanggungjawab ialah Tuk Tuan atau Keraing Aji yang berketurunan Bugis dan bermastautin di Kampung Mengkasar, Pekan, Pahang. Dari Pahang, corak ini berkembang ke Kelantan dan Terengganu. Tenunan Pahang menggunakan alat yang dikenali sebagai kei siam. Kedua-dua benang sutera dan benang kapas boleh digunakan. Motif utama ialah petak-petak dan jalur tegak atau melintang. 
Tenunan benang kapas
Tenunan ini adalah tenunan biasa termasuk dalam kelompok tekstil sederhana iaitu jenis awal yang ditemui di wilayah budaya tekstil Melayu pesisir. Tekstil ini khususnya yang diperbuat daripada kapas dipakai oleh kalangan rakyat biasa. Tenunan biasa berhias corak hasil jalinan tenun benang pakan dan loseng berwarna. Pada peringkat ini, tenunan biasa masih di peringkat sederhana iaitu belum lagi diberi motif hiasan. Tenunan bercorak mula memperlihatkan keindahan khususnya apabila benang sutera atau benang emas diselit untuk mengimbangi motif jalur atau garis kecil seperti pada kain hujan emas. Hampir seluruh wilayah budaya tekstil melayu seperti Kelantan, Terengganu, Pahang, Riau-Siak, Sulawesi, Minangkabau, Palembang menghasilkan tenunan biasa atau tenunan becorak yang seperti ini.
FUNGSINYA 
    
fungsi kain tenun adalah sebagai alat untuk menyebuhkan penyakit, dua kain tenun khas kalimantan selatan ini dipercaya bisa menyebuhkan penyakit dengan cara memakainya di tubuh, yakni kain tenun sarigading dan kain tenun sasirangan.
7.Sejarah Kaligrafi

Secara bahasa "kaligrafi" merupakan penyederhanaan dari calligraphy (kosakata dari bahasa Inggris).

Kata ini diadopsi dari bahasa Yunani yang diambil dari kata kallos yang berarti beauty (indah) dan graphein yang artinya to write (menulis) berarti tulisan atau aksara, yang berarti "tulisan yang indah atau seni tulisan indah. Dalam bahasa Arab kaligrafi disebut khat yang berarti garis.

Secara istilah dapat diungkapkan, "calligraphy is hanwriting as an art, to some calligraphy will mean formal penmanship, distinguish from writing only by its exellents guality" (kaligrafi adalah tulisan tangan sebagai karya seni, dalam beberapa hal yang dimaksud kaligrafi adalah tulisan formal yang indah, perbedaannya dengan tulisan biasa adalah kualitas keindahannya). Ada juga ungkapan lain, seperti Hakim al-Rum mengatakan : Kaligrafi adalah geometri spiritual dan diekspresikan dengan perangkat fisik. Sementara Hakim al-Arab menuturkan kaligrafi adalah pokok dalam jiwa dan diekspresikan dengan indra indrawi. Batasan-batasan tersebut seiring pula dengan yang diungkapkan oleh Yaqut al-Musta'shimi bahwa kaligrafi adalah geometri rohaniah yang dilahirkan dengan alat-alat jasmaniah. Sementara Ubaidillah bin Abbas mengistilahkan kaligrafi dengan lisan al-yadd atau lidahnya tangan serta masih banyak lagi terminologi kaligrafi yang senada dengan yang telah disebutkan. Namun terminologi kaligrafi yang lebih lengkap diungkapkan oleh Syaikh Syamsuddin al-Akfani sebagai berikut: kaligrafi adalah suatu ilmu yang memperkenalkan bentuk-bentuk huruf tunggal, letak-letaknya dan tata cara merangkainya menjadi sebuah tulisan yang tersusun atau apa yang ditulis diatas garis-garis, bagaimana cara menulisnya dan menentukan mana yang tidak perlu ditulis, menggubah ejaan yang perlu digubah dan menentukan cara bagaimana untuk menggubahnya.
fungsinya 
  Fungsi Kaligrafi Islam pada prinsipnya dibagi menjadi dua bagian, yaitu sebagai media komuniksi dan media ekspresi.
1.      Media Komunikasi
Sebagai media komunikasi, tulisan dijadikan sebagai alat untuk menyampaikan pesan, dari seseorang ke orang lain dari komunikan ke receiver (penerima). Melalui  tulisan, orang bisa menuangkan ide-ide dan buah pikirannya. Dengan tulisan, kita dapat mengetahui karakter seseorang, misalnya: pemarah, penyabar, ulet, atau orang yang tekun.
Tulisan yang kecil-kecil, teratur dan halus mengidentifikasikan keuletan dan ketelitian penulisnya. Tulisan yang besar-besar dan tidak teratur bisa diartikan sebagai suatu ketergesa-gesaan. Sehubungan dengan itu Muhammad Thahir Ibnu  Abdal  Kadir al Kurdi menyatakan bahwa, tulisan dapat menggambarkan postur tubuh seseorang, misalnya tulisan dengan susunan pendek dan rapat cenderung ditulis oleh orang berpostur tubuh pendek. Demikian pula orang yang tinggi cenderung menulis secara jarang dan tinggi pula. Bahkan seseorang yang peka melihat sebuah tulisan dapat membedakan antara  tulisan pria dan wanita, tulisan wanita lelih molek dari tulisan pria yang setara. Namun pada kenyataannya  tidak banyak wanita yang ahli kaligrafi, wanita biasanya tidak tahan menghadapi kesulitan, berbeda dengan pria yang biasanya lebih tabah, tekun, dan sabar.
Tulisan dapat pula dijadikan sebagai data pelacakan sebagaimana halnya tangan tangan, yang dapat menginformasikan siapa gerangan penulisnya. Seperti juga dengan sidik jari, tiada dua orang yang memiliki tulisan yang sama persis, sekalipun mereka itu saudara kembar.
Sebagai media komunikasi, aksarindah Islam dituntut kejelasan tulisan, huruf demi huruf, agar dapat dibaca dengan jelas sesuai dengan yang dimaksudkan oleh penulisnya.
2.      Media Ekspresi
Aksarindah Islam dapat pula dijadikan sebagai media ekspresi. Hal itu dibuktikan oleh beberapa pelukis papan atas Indonesia seperti: Ahmad Sadali, A. D. Pirous, Amri Yahya, Amang Rahman, HD. Sirojuddin AR, Abay D. Sabarna, Saiful Adnan, Abas Alibasyah, Fadjar Sidik, dan yang lainnya, termasuk maestro seni lukis Indonesia Affandi pernah juga membuat kaligrafi Islam. Walau itu adalah lafadz “Allah” yang ditempatkan di sisi atas bidang kanvasnya digabungkan dengan lukisan potret diri Affandi yang khas.
Sebagaimana media ekspresi lainnya, aksarindah yang ditorehkan di atas bidang kanvas tidak berhenti pada tulisan saja. Lebih dari itu mendapatkan tambahan elemen-elemen seni rupa pada umumnya, seperti elemen warna, tektur  dan garis. Pengaturan komposisi, irama, dan gelap terang. Unity atau kesatuan baik antara kesatuan elemen seni rupa, maupun  kesatuan tema, juga  mendapat perhatian dalam karya seni aksarindah Islam.
Sehubungan dengan itu, menurut A.D Pirous dalam buku karangan Ilham Khoiri R., “Al-quran dan Kaligrafi Arab”, menyatakan bahwa ketika kaligrafi itu dituliskan dengan tambahan emosi yang melebihi proporsinya sebagai alat komunikasi, maka ia akan memiliki proses tambah. Kaligrafi bisa menjadi karya yang memendam estetika yang mendalam. Sebagai karya seni bentuk kaligrafi akan terus berkembang dan tidak pernah selesai.
Sebagai seorang Muslim yang taat ada semacam keasyikan tersendiri yang dirasakan sewaktu menggoreskan Kalam Ilahi atau Sunnatan Nabi di dalam berkarya. Lebih khusuk lagi kalau itu sudah sampai ke nilai ibadah secara transendental. Setiap berkarya yang diniatkan sebagai ibadah membuat hati menjadi tenang tenteram dan tentunya diyakini mendapat pahala. Dampaknya adalah akan tercermin dalam setiap karya yang dihasilkan. Bagaimana pun juga setiap karya seni rupa (termasuk karya Aksarindah Islam) merupakan ekspresi atau ungkapan perasaan yang dalam dari pelukis atau aksarindernya.
Karya aksarindah Islam sudah mulai marak di tanah air, dan sudah digandrungi oleh perupa-perupa Muslim pada dasawarsa terakhir ini. Dan mulai diperhitungkan sebagai suatu karya seni rupa kontemporer sering dipamerkan baik dalam pameran bersama, maupun tunggal. Di forum Nasional ikut dilombahkan pada MTQ Nasional atau pada acara Hari-Hari Besar Islam, di tingkat Asean selalu diadakan peraduan Menulis Khat di Brunei Darussalam dan lomba tingkat internasional diadakan di Turki. Di berbagai tingkatan itu aksarinder Indonesia sering mendominasi kejuaraan minimal sampai kejuaraan tingkat Asean.  Semoga.*** (26Nov2001)

8.

asal usul baju 'bodo'

Sejarah Baju Bodo adalah pakaian tradisional perempuan
Makassar. Dalam suku Bugis baju ini disebut Waju
Tokko. Baju Bodo berbentuk segi empat, biasanya
berlengan pendek, yaitu setengah atas bagian siku
lengan. Dalam bahasa Makassar, kata “Bodo” berarti
pendek. Baju Bodo atau Waju Tokko, sudah dikenal oleh
masyarakat Sulawesi Selatan sejak pertengahan abad
IX (pen), hal ini diperkuat dari sejarah kain Muslin, kain
yang digunakan sebagai bahan dasar Baju Bodo itu
sendiri. Kain Muslin adalah lembaran kain hasil tenunan
dari pilinan kapas yang dijalin dengan benang katun.
        Memiliki rongga dan kerapatan benang yang renggang menjadikan kain Muslin sangat cocok untuk daerah tropis dan daerah beriklim kering. Kain Muslin (Eropa) atau Maisolos (Yunani Kuno), Masalia (India Timur) dan Ruhm (Arab), tercatat pertama kali dibuat dan diperdagangkan di kota Dhaka, Bangladesh, hal ini merujuk pada catatan seorang pedagang Arab bernama Sulaiman pada abad IX. Sementara Marco Polo pada tahun 1298 Masehi, dalam bukunya The Travel of Marco Polo, menjelaskan bahwa kain Muslin itu dibuat di Mosul (Irak) dan dijual oleh pedagang yang disebut “Musolini”. Uniknya, masyarakat Sulawesi Selatan
sudah lebih dulu mengenal dan mengenakan jenis kain ini dibanding masyarakat Eropa, yang baru mengenalnya pada abad XVII dan baru populer di Perancis pada abad XVIII.

    Sehingga tidak janggal jika pada tahun 1930-an, masih banyak ditemui perempuan Bugis- Makassar memakai Baju Bodo/Waju Tokko tanpa memakai penutup dada. Masuknya Islam dan Munculnya Baju La’bu Meski ajaran agama Islam sudah mulai menyebar dan dipelajari oleh masyarakat di Sulawesi sejak abad ke-5,
namun secara resmi baru diterima sebagai agama kerajaan pada abad ke-17. Pergerakan DII/TII di Sulawesi juga berpengaruh besar pada perkembangan Baju Bodo saat itu. Ketatnya larangan kegiatan dan pesta adat oleh DII/TII, membuat
Baju Bodo menjadi asing dikalangan masyarakat Sulawesi Selatan. Larangan ini muncul mengingat penerapan syariat Islam yang diusung oleh pergerakan DII/TII. Tak pelak, pelarangan ini menjadi isu besar dikalangan para
pelaku adat dan agamawan.

     Dalam ajaran agama Islam ditegaskan bahwa, pakaian yang dibenarkan adalah pakaian yang menutup aurat, tidak menampakkan lekuk tubuh dan rona kulit selain telapak tangan dan wajah. Kontroversi ini kemudian disikapi bijak oleh kerajaan Gowa, hingga muncullah modifikasi baju bodo yang dikenal dengan nama Baju La’bu (serupa dengan Baju Bodo, tetapi lebih tebal, gombrang, panjang hingga lutut) Perlahan, Baju Bodo/Waju Tokko yang semula tipis berubah menjadi lebih tebal dan terkesan kaku. Jika pada awalnya memakai kain muslin, berikutnya baju ini dibuat dengan bahan benang sutera. Bagi golongan agamawan, adanya Baju La’bu ini adalah solusi terbaik, tidak melanggar hukum Islam dan
juga tidak menghilangkan nilai adat.

      Warna dan Arti Menurut adat Bugis, setiap warna Waju Tokko yang dipakai oleh perempuan Bugis menunjukkan usia
ataupun martabat pemakainya. Anak dibawah 10 tahun memakai Waju Tokko yang
disebut Waju Pella-Pella (kupu-kupu), berwarna kuning gading (maridi) sebagai pengambaran terhadap dunia anak kecil yang penuh keriangan. Warna ini adalah
analogi agar sang anak cepat matang dalam menghadapi tantangan hidup. Umur 10-14 tahun memakai Waju Tokko berwarna jingga atau merah muda. Warna merah muda dalam bahasa Bugis disebut Bakko, adalah representasi dari
kata Bakkaa, yang berarti setengah matang. Umur 14-17 tahun, masih memakai Waju Tokko berwarna jingga atau merah muda, tapi dibuat
berlapis/ bersusun dua, hal ini dikarenakan sang gadis sudah mulai tumbuh payudaranya.

        baju bodo  Juga dipakai oleh mereka yang sudah menikah tapi belum memiliki
anak. Umur 17-25 tahun memakai Waju Tokko berwarna merah darah, berlapis/ bersusun. Dipakai oleh perempuan yang sudah menikah dan memiliki anak,
berasal dari filosofi, bahwa sang perempuan tadi dianggap sudah mengeluarkan darah dari rahimnya yang berwarna merah. Umur 25-40 tahun memakai Waju Tokko berwarna hitam. Waju Tokko berwarna putih digunakan oleh para inang/
pengasuh raja atau para dukun atau bissu. Para bissu memiliki titisan darah berwarna putih, inilah yang mengantarkan mereka mampu menjadi penghubung
dengan Botting Langi (khayangan), peretiwi (dunia nyata), dan ale kawa(dunia roh). Mereka dipercaya tidak memiliki alat kelamin, sehingga terlepas dari
kepentingan syahwat.

      Para putri raja, bangsawan dan keturunannya yang
dalam bahasa Bugis disebut maddara takku (berdarah bangsawan) memakai Waju Tokko berwarna hijau. Dalam bahasa Bugis, warna hijau disebut kudara, yang
berasal dari kata na-takku dara-na, yang secara harfiah berarti “mereka yang menjunjung tinggi harkat kebangsawananny a.” Waju Tokko berwarna ungu dipakai oleh para janda. Dalam bahasa Bugis, warna ungu disebut kemummu
yang juga dapat berarti lebamnya bagian tubuh yang terkena pukulan atau benturan benda keras. Dalam pranata sosial masyarakat Bugis jaman dahulu,
menikah dengan seorang janda merupakan sebuah aib. Cara Pakai dan Aksesoris Cara memakai Baju Bodo/Waju Tokko sangat mudah, layaknya seperti memakai t-shirt. Baju Bodo/Waju Tokko dikenakan dengan menggunakan bawahan
Lipa’ Sa’be (sarung sutera) yang bermotif kotak- kotak cerah.

      
Lipa’ Sa’be dipakai seperti memakai sarung yang kadang diperkuat dengan tali atau ikat pinggang agar tidak melorot. Pada bagian pinggang, Baju Bodo/Waju Tokko dibiarkan menjuntai menutupi ujung sarung bagian atas. Si pemakai biasanya memegang salah satu ujung baju bodo lalu disampirkan di lengan. Sebagai aksesoris, ditambahkan kalung, gelang panjang, anting, dan bando atau tusuk konde di kepala.
Ada pula yang menambahkan bunga sebagai penghias di rambut. Selain untuk acara adat seperti upacara pernikahan, Baju Bodo/Waju Tokko saat ini juga dipakai untuk menyambut tamu agung dan acara lainnya seperti menari.
fungsi 
 
Pakaian ini kerap dipakai untuk acara adat seperti upacara pernikahan. Tetapi kini, baju bodo mulai direvitalisasi melalui acara lainnya seperti lomba menari atau menyambut tamu agung.[3]
Dulu, baju bodo bisa dipakai tanpa penutup payudara. Hal ini sudah sempat diperhatikan James Brooke (yang kemudian diangkat sultan Brunei menjadi raja Sarawak) tahun 1840 saat dia mengunjungi istana Bone :
"Perempuan [Bugis] mengenakan pakaian sederhana... Sehelai sarung [menutupi pinggang] hingga kaki dan baju tipis longgar dari kain muslin (kasa), memperlihatkan payudara dan leluk-lekuk dada."[4] Rupanya cara memakai baju bodo ini masih berlaku pada tahun 1930-an.